Kamis, 21 Mei 2020


Mbah Siti, Bertahan Hidup dengan Berjualan Barang Rongsok

Barang-barang yang jarang digunakan atau sudah tidak layak pakai akan mubazir jika tetap disimpan di rumah. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita memberikan barang tersebut pada orang yang lebih membutuhkan atau membuangnya jika benar-benar sudah tidak bisa digunakan. Dengan demikian, barang akan menjadi lebih bermanfaat, dan ruangan di rumah kita menjadi lebih luas.

Meskipun barang-barang yang kita buang terkesan sudah tidak layak pakai, masih banyak yang membutuhkannya. Tidak sedikit yang mengambil berbagai barang rongsok yang ada di pinggir jalan untuk dijual kembali. Ini salah satunya dilakukan oleh Mbah Siti. Untuk tetap bisa bertahan hidup. Ia mengandalkan barang-barang rongsok yang ia temukan di sepanjang jalan.

Sosok Mbah Siti

Orang-orang di sekitarnya memanggilnya dengan sebutan Mbah Siti atau Mbah Ti. Dengan badannya yang sudah mulai rapuh dan tangannya yang semakin keriput, ia masih gigih untuk mencari sesuap nasi. Ini dilakukannya sendirian karena Mbah Siti tidak ingin merepotkan orang lain jika untuk sekedar mengenyangkan perutnya. Saat ini, Mbah Siti masih giat mengumpulkan barang-barang rongsokan mulai dari subuh hingga jam 4 sore.

Barang-barang rongsok yang diambil Mbah Siti bervariasi. Ia biasa mengambil botol-botol plastik bekas, koran bekas, atau barang-barang bekas lainnya seperti sandal anak, gantungan baju, komponen-komponen kecil elektronik, dan lain-lain. Saat punggungnya sudah merasa berat, ia baru menjual semua barang rongsokan yang diambil pada hari itu. Ia pun bersyukur atas hal itu karena masih ada banyak barang rongsok bertebaran yang bisa ia jual.

Mbah Siti biasa menggunakan keranjang untuk mengumpulkan barang rongsokan. Keranjang itu ia angkut di balik punggungnya untuk kemudian dibawa ke pengepul untuk dijual kembali. Hasil penjualan tersebut terbilang cukup minim. Bahkan, Mbah Siti harus menyisihkan sebagian dari hasil penjualannya untuk membayar sewa rumah yang ada di Jalan Tanah Merah Utara gg. 9 No. 11, Surabaya. Ia harus membayar 1 juta per tahunnya.

Kebaikan untuk Mbah Siti

Mbah Siti merupakan salah satu sosok yang bisa menginspirasi kita semua. Sikap pantang menyerahnya dalam bertahan hidup bisa menjadi contoh bagi siapa saja yang masih bermalas-malasan. Selain itu, Mbah Siti juga tidak lupa untuk selalu melakukan kebaikan pada sesama. Dengan keterbatasan ekonomi yang ia miliki, Mbah Siti masih tetap ingin berbagi pada orang-orang di sekitarnya.

Untuk memulai kebaikan seperti Mbah Siti, kita bisa memulainya dengan menjadi peserta produk asuransi syariah AlliSya Protection Plus dari Allianz. Dengan menggunakan layanan asuransi AlliSya Protection Plus, kita bisa memberikan perlindungan jiwa dan kesehatan secara maksimal kepada orang-orang tersayang. Dengan begitu, masa depan kesehatan dan jiwa akan lebih terjamin di masa depan tanpa harus merasa khawatir.

Asuransi Syariah Indonesia Allianz juga menawarkan fitur wakaf yang bisa membantu kita untuk senantiasa berbagi kebaikan kepada sesama. Ada dana musibah yang dikelola oleh sebuah program sosial yang nantinya akan disalurkan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Dari dana wakaf tersebut, ada banyak orang yang bisa merasakan manfaat kebaikan yang berlimpah.

Yuk, #AwaliDenganKebaikan bersama Allianz. Dengan menebarkan kebaikan seperti yang Mbah Siti lakukan, kita bisa menebarkan manfaat lebih banyak lagi pada orang banyak. Selain itu, ada paket umroh gratis yang layak didapatkan oleh orang-orang baik seperti Mbah Siti. Oleh karena itu, jangan tunda untuk melakukan hal-hal baik, ya!